Tampilkan postingan dengan label artikel.... Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel.... Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 Februari 2011

Gunakan kata-kata

Lynn telah menghabiskan susunya dan ingin tambah lagi. Ia mulai menangis.

“gunakan kata-kata, lynn. Katakan minta lagi, “kata ibunya.
Lynn berhenti menangis, melihat pada ibunya dan mengatakan “Mo”.
“bagus. Ini susu lagi. Terima kasih karena kamu sudah menggunakan kata-katamu.”

Setelah seorang anak berusia satu tahun, konsep menggunakan kata-kata sudah waktunya untuk diperkenalkan. Ini artinya anak anda perlu menggunakan kata-kata, bukan merengek atau menangis ketika ia menginginkan sesuatu, seperti “gendong” atau “susu”.

Anak kecil tidak selalu mengucapkan kata secara tepat. Ini normal. Beberapa suara belum dikuasai sampai sekitar usia tujuh tahun. Pada awalnya, terima setiap suara yang diucapkan anak anda, tetapi anda dapat mengulang kata yang tepat, “mau”. Dengan cara inilah anak-anak mempelajari pengucapan yang tepat.

Maksud dari teknik ini adalah untuk mengajarkan anak-anak bahwa menggunakan kata-kata untuk mengungkapkan apa yang mereka inginkan itu lebih baik dari merengek atau menangis. Anda dapat memperkenalkan teknik ini ketika anak anda baru berusia satu tahun, anda dapat memperkenaklan teknik ini secara berhasil. Misalnya, mark yang berusia tiga tahun berlari ke dapur sambil menangis.

“ada apa?” tanya ibunya.
Mark terus menangis.
“ayo diam dan ceritakan apa yang terjadi. Tarik napas panjang.
Gunakan kata-kata.

Mungkin diperlukan pengajaran yang konsisten selama beberapa bulan sebelum anak anda mengerti kapan dan bagaimana menggunakan kata-kata. Bahkan setelah mereka memahami konsep dasarnya sekalipun, semua anak perlu diarahkan dan diingatkan sepanjang tahun-tahun prasekolah dan bahkan sampai masa kanak-kanak selanjutnya. Sementara anak anda semakin dewasa, anda mungkin ingin mengubah pendekatan anda juga. Ambillah kasus beth yang berusia tiga tahun.

Beth: (mulai merengek karena ia tidak dapat membuka tasnya.)

Rosi: “ibu nggak ngerti kalau kamu bicara seperti itu. Gunakan kata-kata, dan ibu akan membantumu. Ayo katakan, “ibu, tolong bisa bantu aku?”

Mengajar anak prasekolah untuk menggunakan kata-kata juga berlaku terhadap hubungan mereka dengan kakak dan teman. Sementara anak mulai bertambah besar dan belajar bermain dengan anak-anak lain, kata-kata memungkinkan mereka menangani situasi sosial. Kata-kata membantu mereka mendaptakan apa yang mereka inginkan tanpa konflik: “bolehkah aku mainkan pereahu itu sesudah kamu, bryan?” kata-kata membantu anak-anak untuk belajar berbagi: “taylor, kamu mau bertukar mainan denganku?” kata-kata membantu mereka mengungkapkan perasaan. “aku tidak suka diganggu. Tolong jangan ganggu aku. “ketika anak-anak menjadi kesal ketika bermain, ingatkan mereka untuk memikirkan kata-kata yang dapat mereka gunakan. Jangan ragu untuk memberitahukan anak-anak anda, “kata-katamu sangat bermanfaat. Pikirkan apa yang perlu kamu katakan.

(sal severe, Ph..D. bagaimana bersikap pada anak pra sekolah, agar anak prasekolah anda bersikap baik, 2003, gramedia, jakarta)

Kamis, 17 Februari 2011

Proses Kreatif Penulisan Novel Rumah Tanpa Jendela dan Trailernya, tayang di bioskop 24 Feb
by Asma Nadia on Friday, 11 February 2011 at 12:00

Assalamu'alaikum,

Kabar-kabari ya...:)

Alhamdulillah novel terbaru saya telah terbit: Rumah Tanpa Jendela (RTJ). Setelah 2007 menyelesaikan Istana Kedua yang diterbitkan GPU saya belum menulis novel lagi, hingga selesainya naskah novel Rumah Tanpa Jendela persis 1 Januari lalu, naskah novel ini kemudian diterbitkan Penerbit Kompas.


Ada apa di novelnya?

Kalau ada sesuatu yang baru bagi saya, adalah... saya bersyukur menulis novel Rumah Tapa Jendela ini dalam kondisi sekarang. Artinya sdh berkeluarga, memiliki anak... hingga mengerti betapa besar keinginan setiap orang tua untuk mewujudkan mimpi anak-anak. Bagaimana mereka yang telah berkeluarga tidak hanya memahat mimpi bagi mereka sendiri, namun juga mimpi anak-anaknya.


Berpikir tentang fananya kehidupan, saya bersyukur menulis novel yang dikembangkan dari cerpen berjudul Jendela Rara (dimuat di buku kumcer Emak Ingin Naik Haji, 12 cerpen pilihan). Karena pada lembaran-lembaran lebih dari 130 halaman ini, banyak ruang bagi saya untuk bicara tentang rapuhnya usia. Tentang mempersiapkan tidak hanya diri sendiri untuk menghadapNya, satu kepastian dalam hidup, yang kita sering lupa. Dan ketika ingat, kita sering berpikir untuk mempersiapkan diri, dengan memperbanyak bekal jika saat itu tiba nanti. Lupa bahwa sebagai orang tua pun kita harus mempersiapkan mereka, para buah hati itu agar tumbuh menjadi manusia yang memiliki ketegaran dan kesiapan untuk bangkit, betapa pun tragedi dan ujian hidup bertubi-tubi menghampiri dan berupaya mematahkan semangat.


Betapa impian dan keberanian untuk mempertahankannya, betapa kepercayaan untuk menyandarkan harapan kepadaNya adalah hal lain yang harus ditumbuhkan dari sekarang untuk anak-anak dan orang-orang tercinta. Hingga jika kematian datang, semoga sebagian pr sebagai orang tua itu telah kita tunaikan. Dan ananda akan tumbuh menyongsong masa depan mereka, dengan percaya bahwa harapan dan impian itu tetap ada. Bahwa mereka bisa berpegang pada janji Allah... Inna ma'al usri yusro...


Sesungguhnya kegelapan yang terasa mengungungkung saat kesulitan hidup luar biasa kita terima, sebenarnya ada titik-titik cahayaNya yang disertakan, kemudahan yang membuat kita bisa melihat betapapun, ada lebih banyak hal untuk disyukuri. Kesadaran yang semoga menguatkan langkah untuk melanjutkan hidup, meski orang-orang tercinta telah pergi.


Dan saya bersyukur, menerima tantangan menulis novel ini, setelah sebelumnya menolak permintaan Mas Aditya Gumay (sutradara Emak Ingin Naik Haji dan Rumah Tanpa Jendela), untuk menulis novelnya, sebelum filmnya terbit, mengingat singkatnya waktu. Dan meski ada cara mudah mengalihkan skenario ke film, dengan tinggal memindahkan adegan2 visual menjadi narasi2 novel, saya tidak bisa memilih cara ini. Menulis bagi saya hal yang pribadi, dan benar-benar pekerjaan hati. Lama saya termenung di depan layar yang masih putih bersih hanya untuk memikirkan, akan memulai dari mana. Bagaimana menghadirkan kisah ini agar penonton filmnya tetap menemukan kebahagiaan dan sesuatu yang berbeda saat membaca novelnya. Dan ini tantangan lain.


Bagaimanapun sungguh saya bersyukur sebab akhirnya saya bisa menulis sesuatu yang pada prosesnya memberikan kesadaran dan menggugah saya pribadi, akan begitu banyak hal yang belum saya siapkan bagi anak-anak.


Novel Rumah Tanpa Jendela semoga menjadi sebuah karya yang walaupun sederhana tetapi inspiratif. Mengajak bangkit mereka yang terpuruk. Mengajak berbesar hati mereka yang kehilangan. Mengajak kita melihat juga potret sosial di tanah air. Selain, meluruskan keikhlasan untuk menerima semua pemberian Allah, sebagai sebuah anugerah, bagaimanapun kondisinya.


Dalam film tokoh Aldo tidak disebut autis, hanya special needs. Namun dalam novel bagi saya ini kesempatan untuk menulis ttg anak-anak special needs ini, khususnya autis. Semoga bisa memberikan sedikit masukan bagi pasangan yang menjadi orang tua untuk bisa mendeteksi lebih awal jika ananda autis.


Novel dan film Rumah Tanpa Jendela yang akan tayang 24 feb ini semoga menjadi ruang lain bagi kita, para ayah dan bunda, para kakak dan adik, siapa saja untuk berkaca dan membuka hati, untuk melihat begitu banyak cinta, kebaikan yang bisa kita tebarkan.

Mohon doa dan dukungan rekan semua.

Insya allah 100% keuntungan tiket bioskop film ini akan didonasikan bagi anak-anak Indonesia yang membutuhkan. Karenanya ketika melangkah ke bioskop nanti, bismillah niatkan untuk menjadi bagian dari gerakan cinta bersama ini. Semoga Allah mencatat keikhlasan siapa saja dan mengganti uang untuk membeli tiket dan menonton film ini, dengan ganti yang lebih baik. Amin...

wass


Asma Nadia

www.rumahbacaasmanadia.com

without edit ah males he...ini note dari asma nadia...ceritanya bagus...apalagi da tentang cerita anak-anak spesial need khususnya autis...aku sedang tertarik untuk mempelajarinya...cerita ini sama seperti naura seorang anak di TK yang kebetulan juga sama, mereka menyebutnya autis, tapi dengan kesabaran dari orang tua, guru dan lingkungannya sekarang naura banyak mengalami perubahan...dia pintar...bisa bahasa inggris juga lho...suka bereksperimen...sudah mulai mengenal peraturan...bisa di ajak berkomunikasi...pernah suatu ketika ada seorang ibu yang kebetulan tetanggana juga punya anak yang autis suka marah2, suka teriak2 sangat aktif sekali, tak mau diam, tak mau tenang sampai2 si ibunya bilang tak tahan dan menyerah untuk mendidik dan membimbing anaknya lagi dia rela membiarkan anaknya di pukuli pembantuna mungkin dengan kekerasan bisa menaklukkan anak ini mungkin begitu pikirnya...rasa tak mampu membayangkan jika seorang ibu memilih menyerah untuk mendidik, membimbing dan mendampingi anaknya???bagaimana nanti?? lalu siapa yang akan membimbing anaknya klo bukan ibunya?? hal ini yang membuatku tertarik dan ingin tahu lebih dalam tentang apa itu autis, sebab dan solusinya...seperti yang di alami oleh bu sri murni yang menulis buku "Faisol Sayang Mama Sampai Tua", buku ini bercerita tentang kegigihan seorang ibu yang memiliki anak autis, seorang ibu yang minim ekonomi dan minim ilmu...ibu sri murni ni dahulu seorang yang suka belajar namun orang tuanya justru menentang keinginan anaknya...Subhanallah...kasih ibu tak terhingga sepanjang masa...

Badan Cuma Titipan...

Badan Cuma titipan
Kapan kita akan sadar bahwa kesehatan kita adalah tanggung jawab kita sendiri, bahwa tubuh kita adalah amanah yang harus kita jaga? Jika kita melalaikan tanggung jawab kita dan menyia-nyiakan bahkan merusak tubuh kita, apa yang akan kita katakana pada sang pemberi amanah itu saat dia menanyakanya kelak?

tubuh yang sudah berpenyakit, ada yanbg terlahir dengan tubuh sempurna lalu mencari-cari penyakit. Ada penyakit bawaan, ada penyakit buatan.
Saat tenggorokan gatal, suara bindeng, hidung meler, dan gatal karena influenza, kita segera marah dan menuding virus flu sebagai biang kerok utamanya. Kita lupa menuding ke diri sendiri, mengingat-ingat kecerobohan apa yang sudah kita lakukan terhadap tubuh kita sendiri sehingga virus flu yang memang selalu ada itu-bisa Berjaya di tubuh kita.

Kepada siapa seorang perokok, misalnya harus marah bila karena rokoknya itu, paru-paru dan jantungnya jadi error? Apa ia akan menyalahkan rokok dengan kurang ajar mengandung nikotin dan ribuan zat beracun lainnya? Tentu si perokok akan marah pada diri-sendiri karena kita secara sadar membeli dan mengisap racun.
Nah, kalau dia yang ketitipan tubuh saja bias marah oleh ulahnya sendiri, bagaimanakah dengan dia, yang memiliki tapi rela menitipkan tubuh itu manusia?
Kapan kita akan sadar bahwa kesehatan kita adalah tanggung jawab kita sendiri, bahwa tubuh adalah amanah yang harus kita jaga? Jika kita melalaikan tanggung jawab kita dan menyia-nyiakan ahkan merusak tubuh kita, apa yang akan kita katakanpada sang pemberi amanah itu saat di menanyakannya kelak?

Di tengah keterpanaan dunia atas meninggalnya “king of pop” Michael Jackson, yang juga membuat media cetak dan elektronik “lupa” berita lain, Michael Levine mantan juru bicara Michael Jackson harus akui bahwa saya tidak terkejut oleh kematian itu. “saya harus akui bahwa saya tidak terkejut oleh kejadian tragis ini,” katanya seraya menyebutkan bahwa sang mega bintang selama bertahun-tahun telah berada dalam perjalanan yang teramat sulit dan merusak diri (self-destructive). “manusia tak akan sanggup berlama-lama hidup dalam stress seperti yang dialami jacko,” katanya.
Tak ukar mengenali apa yang telah Jackson dan para dokter lakukan pada tubuhnya (wajah dipermak habis-habisan, kulit diputihkan dan berbagai tindakan medis aneh lainnya). Juga memang tak sukar membayangkan kejamnya media gossip menyusup ke kehidupan pribadinya. Tapi unsure self destructive yang dilakukan Michael Jackson itu sukar disangkal adanya, dan itu layaknya jadi cermin buat kita.

Andai kita mau mengadposi konsep bahwa tubuh kita pun merupakan amanah, kita tentu akan menghindar dari tindakan yang menggerogoti kesehatan kita sendiri. Merusak kesehatan kita sendiri (sehingga kita jatuh sakit) agaknya juga merupakan salah satu jenis tindakan egoistis, tindakan orang yang tidak mau membayangkan betapa repotnya orang di sekelilingnya (orangtua, istri, suami, anak, family, sahabat, rekan kerja dan seterusnya) yang harus turut menanggung sakitnya.

Sungguh, kita tak bisa dengan sombong berkata, “ini kan badan gue, terserah gue dong mau gue apain…” bukan badanmu, kawan. Sekali lagi itu titipan belaka yan kelak akan diminta kembali dan akan dibandingkan dengan keadaannya yang semula.

By agus budiman majalah ummi edisi 03 juli 2009 hal 2

2 nikmat yang kadang terlupa yaitu nikmat sehat dan nikmat waktu luang...
Keep Our Health...just want to remend that without health everything is nothing...

CiNtA...

Makna ‘Cinta Sejati’ terus dicari dan digali. Manusia dari zaman ke zaman seakan tidak pernah bosan membicarakannya. Sebenarnya? apa itu ‘Cinta Sejati’ dan bagaimana pandangan Islam terhadapnya?



Alhamdulillah, sholawat dan salam semoga terlimpahkan kepada nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.



Masyarakat di belahan bumi manapun saat ini sedang diusik oleh mitos ‘Cinta Sejati‘, dan dibuai oleh impian ‘Cinta Suci’. Karenanya, rame-rame, mereka mempersiapkan diri untuk merayakan hari cinta “Valentine’s Day”.

Pada kesempatan ini, saya tidak ingin mengajak saudara menelusuri sejarah dan kronologi adanya peringatan ini. Dan tidak juga ingin membicarakan hukum mengikuti perayaan hari ini. Karena saya yakin, anda telah banyak mendengar dan membaca tentang itu semua. Hanya saja, saya ingin mengajak saudara untuk sedikit menyelami: apa itu cinta? Adakah cinta sejati dan cinta suci? Dan cinta model apa yang selama ini menghiasi hati anda?



Seorang peneliti dari Researchers at National Autonomous University of Mexico mengungkapkan hasil risetnya yang begitu mengejutkan. Menurutnya: Sebuah hubungan cinta pasti akan menemui titik jenuh, bukan hanya karena faktor bosan semata, tapi karena kandungan zat kimia di otak yang mengaktifkan rasa cinta itu telah habis. Rasa tergila-gila dan cinta pada seseorang tidak akan bertahan lebih dari 4 tahun. Jika telah berumur 4 tahun, cinta sirna, dan yang tersisa hanya dorongan seks, bukan cinta yang murni lagi.



Menurutnya, rasa tergila-gila muncul pada awal jatuh cinta disebabkan oleh aktivasi dan pengeluaran komponen kimia spesifik di otak, berupa hormon dopamin, endorfin, feromon, oxytocin, neuropinephrine yang membuat seseorang merasa bahagia, berbunga-bunga dan berseri-seri. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, dan terpaan badai tanggung jawab dan dinamika kehidupan efek hormon-hormon itu berkurang lalu menghilang. (sumber: www.detik.com Rabu, 09/12/2009 17:45 WIB).



Wah, gimana tuh nasib cinta yang selama ini anda dambakan dari pasangan anda? Dan bagaimana nasib cinta anda kepada pasangan anda? Jangan-jangan sudah lenyap dan terkubur jauh-jauh hari.



Anda ingin sengsara karena tidak lagi merasakan indahnya cinta pasangan anda dan tidak lagi menikmati lembutnya buaian cinta kepadanya? Ataukah anda ingin tetap merasakan betapa indahnya cinta pasangan anda dan juga betapa bahagianya mencintai pasangan anda?



Saudaraku, bila anda mencintai pasangan anda karena kecantikan atau ketampanannya, maka saat ini saya yakin anggapan bahwa ia adalah orang tercantik dan tertampan, telah luntur.



Bila dahulu rasa cinta anda kepadanya tumbuh karena ia adalah orang yang kaya, maka saya yakin saat ini, kekayaannya tidak lagi spektakuler di mata anda.



Bila rasa cinta anda bersemi karena ia adalah orang yang berkedudukan tinggi dan terpandang di masyarakat, maka saat ini kedudukan itu tidak lagi berkilau secerah yang dahulu menyilaukan pandangan anda.



Saudaraku! bila anda terlanjur terbelenggu cinta kepada seseorang, padahal ia bukan suami atau istri anda, ada baiknya bila anda menguji kadar cinta anda. Kenalilah sejauh mana kesucian dan ketulusan cinta anda kepadanya. Coba anda duduk sejenak, membayangkan kekasih anda dalam keadaan ompong peyot, pakaiannya compang-camping sedang duduk di rumah gubuk yang reot. Akankah rasa cinta anda masih menggemuruh sedahsyat yang anda rasakan saat ini?



Para ulama’ sejarah mengisahkan, pada suatu hari Abdurrahman bin Abi Bakar radhiallahu ‘anhu bepergian ke Syam untuk berniaga. Di tengah jalan, ia melihat seorang wanita berbadan semampai, cantik nan rupawan bernama Laila bintu Al Judi. Tanpa diduga dan dikira, panah asmara Laila melesat dan menghujam hati Abdurrahman bin Abi Bakar radhiallahu ‘anhu. Maka sejak hari itu, Abdurrahman radhiallahu ‘anhu mabok kepayang karenanya, tak kuasa menahan badai asmara kepada Laila bintu Al Judi. Sehingga Abdurrahman radhiallahu ‘anhu sering kali merangkaikan bair-bait syair, untuk mengungkapkan jeritan hatinya. Berikut di antara bait-bait syair yang pernah ia rangkai:



Aku senantiasa teringat Laila yang berada di seberang negeri Samawah

Duhai, apa urusan Laila bintu Al Judi dengan diriku?

Hatiku senantiasa diselimuti oleh bayang-bayang sang wanita

Paras wajahnya slalu membayangi mataku dan menghuni batinku.

Duhai, kapankah aku dapat berjumpa dengannya,

Semoga bersama kafilah haji, ia datang dan akupun bertemu.



Karena begitu sering ia menyebut nama Laila, sampai-sampai Khalifah Umar bin Al Khattab radhiallahu ‘anhu merasa iba kepadanya. Sehingga tatkala beliau mengutus pasukan perang untuk menundukkan negeri Syam, ia berpesan kepada panglima perangnya: bila Laila bintu Al Judi termasuk salah satu tawanan perangmu (sehingga menjadi budak), maka berikanlah kepada Abdurrahman radhiallahu ‘anhu. Dan subhanallah, taqdir Allah setelah kaum muslimin berhasil menguasai negeri Syam, didapatkan Laila termasuk salah satu tawanan perang. Maka impian Abdurrahmanpun segera terwujud. Mematuhi pesan Khalifah Umar radhiallahu ‘anhu, maka Laila yang telah menjadi tawanan perangpun segera diberikan kepada Abdurrahman radhiallahu ‘anhu.



Anda bisa bayangkan, betapa girangnya Abdurrahman, pucuk cinta ulam tiba, impiannya benar-benar kesampaian. Begitu cintanya Abdurrahman radhiallahu ‘anhu kepada Laila, sampai-sampai ia melupakan istri-istrinya yang lain. Merasa tidak mendapatkan perlakuan yang sewajarnya, maka istri-istrinya yang lainpun mengadukan perilaku Abdurrahman kepada ‘Aisyah istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan saudari kandungnya.



Menyikapi teguran saudarinya, Abdurrahman berkata: “Tidakkah engkau saksikan betapa indah giginya, yang bagaikan biji delima?”



Akan tetapi tidak begitu lama Laila mengobati asmara Abdurrahman, ia ditimpa penyakit yang menyebabkan bibirnya “memble” (jatuh, sehingga giginya selalu nampak). Sejak itulah, cinta Abdurrahman luntur dan bahkan sirna. Bila dahulu ia sampai melupakan istri-istrinya yang lain, maka sekarang iapun bersikap ekstrim. Abdurrahman tidak lagi sudi memandang Laila dan selalu bersikap kasar kepadanya. Tak kuasa menerima perlakuan ini, Lailapun mengadukan sikap suaminya ini kepada ‘Aisyah radhiallahu ‘anha. Mendapat pengaduan Laila ini, maka ‘Aisyahpun segera menegur saudaranya dengan berkata:



يا عبد الرحمن لقد أحببت ليلى وأفرطت، وأبغضتها فأفرطت، فإما أن تنصفها، وإما أن تجهزها إلى أهلها، فجهزها إلى أهلها.



“Wahai Abdurrahman, dahulu engkau mencintai Laila dan berlebihan dalam mencintainya. Sekarang engkau membencinya dan berlebihan dalam membencinya. Sekarang, hendaknya engkau pilih: Engkau berlaku adil kepadanya atau engkau mengembalikannya kepada keluarganya. Karena didesak oleh saudarinya demikian, maka akhirnya Abdurrahmanpun memulangkan Laila kepada keluarganya. (Tarikh Damaskus oleh Ibnu ‘Asakir 35/34 & Tahzibul Kamal oleh Al Mizzi 16/559)



Bagaimana saudaraku! Anda ingin merasakan betapa pahitnya nasib yang dialami oleh Laila bintu Al Judi? Ataukah anda mengimpikan nasib serupa dengan yang dialami oleh Abdurrahman bin Abi Bakar radhiallahu ‘anhu?(1)



Tidak heran bila nenek moyang anda telah mewanti-wanti anda agar senantiasa waspada dari kenyataan ini. Mereka mengungkapkan fakta ini dalam ungkapan yang cukup unik: Rumput tetangga terlihat lebih hijau dibanding rumput sendiri.



Anda penasaran ingin tahu, mengapa kenyataan ini bisa terjadi?



Temukan rahasianya pada sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini:



الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ فَإِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ. رواه الترمذي وغيره



“Wanita itu adalah aurat (harus ditutupi), bila ia ia keluar dari rumahnya, maka setan akan mengesankannya begitu cantik (di mata lelaki yang bukan mahramnya).” (Riwayat At Tirmizy dan lainnya)



Orang-orang Arab mengungkapkan fenomena ini dengan berkata:



كُلُّ مَمْنُوعٍ مَرْغُوبٌ



Setiap yang terlarang itu menarik (memikat).



Dahulu, tatkala hubungan antara anda dengannya terlarang dalam agama, maka setan berusaha sekuat tenaga untuk mengaburkan pandangan dan akal sehat anda, sehingga anda hanyut oleh badai asmara. Karena anda hanyut dalam badai asmara haram, maka mata anda menjadi buta dan telinga anda menjadi tuli, sehingga andapun bersemboyan: Cinta itu buta. Dalam pepatah arab dinyatakan:



حُبُّكَ الشَّيْءَ يُعْمِي وَيُصِمُّ



Cintamu kepada sesuatu, menjadikanmu buta dan tuli.



Akan tetapi setelah hubungan antara anda berdua telah halal, maka spontan setan menyibak tabirnya, dan berbalik arah. Setan tidak lagi membentangkan tabir di mata anda, setan malah berusaha membendung badai asmara yang telah menggelora dalam jiwa anda. Saat itulah, anda mulai menemukan jati diri pasangan anda seperti apa adanya. Saat itu anda mulai menyadari bahwa hubungan dengan pasangan anda tidak hanya sebatas urusan paras wajah, kedudukan sosial, harta benda. Anda mulai menyadari bahwa hubungan suami-istri ternyata lebih luas dari sekedar paras wajah atau kedudukan dan harta kekayaan. Terlebih lagi, setan telah berbalik arah, dan berusaha sekuat tenaga untuk memisahkan antara anda berdua dengan perceraian:



فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ. البقرة 102



“Maka mereka mempelajari dari Harut dan Marut (nama dua setan) itu apa yang dengannya mereka dapat menceraikan (memisahkan) antara seorang (suami) dari istrinya.” (Qs. Al Baqarah: 102)



Mungkin anda bertanya, lalu bagaimana saya harus bersikap?



Bersikaplah sewajarnya dan senantiasa gunakan nalar sehat dan hati nurani anda. Dengan demikian, tabir asmara tidak menjadikan pandangan anda kabur dan anda tidak mudah hanyut oleh bualan dusta dan janji-janji palsu.



Mungkin anda kembali bertanya: Bila demikian adanya, siapakah yang sebenarnya layak untuk mendapatkan cinta suci saya? Kepada siapakah saya harus menambatkan tali cinta saya?



Simaklah jawabannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:



تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا ، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ. متفق عليه



“Biasanya, seorang wanita itu dinikahi karena empat alasan: karena harta kekayaannya, kedudukannya, kecantikannya dan karena agamanya. Hendaknya engkau menikahi wanita yang taat beragama, niscaya engkau akan bahagia dan beruntung.” (Muttafaqun ‘alaih)



Dan pada hadits lain beliau bersabda:



إِذَا خَطَبَ إِلَيْكُمْ مَنْ تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فَزَوِّجُوهُ إِلاَّ تَفْعَلُوا تَكُنْ فِتْنَةٌ فِى الأَرْضِ وَفَسَادٌ عَرِيضٌ. رواه الترمذي وغيره.



“Bila ada seorang yang agama dan akhlaqnya telah engkau sukai, datang kepadamu melamar, maka terimalah lamarannya. Bila tidak, niscaya akan terjadi kekacauan dan kerusakan besar di muka bumi.” (Riwayat At Tirmizy dan lainnya)



Cinta yang tumbuh karena iman, amal sholeh, dan akhlaq yang mulia, akan senantiasa bersemi. Tidak akan lekang karena sinar matahari, dan tidak pula luntur karena hujan, dan tidak akan putus walaupun ajal telah menjemput.



الأَخِلاَّء يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلاَّ الْمُتَّقِينَ. الزخرف 67



“Orang-orang yang (semasa di dunia) saling mencintai pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertaqwa.” (Qs. Az Zukhruf: 67)



Saudaraku! Cintailah kekasihmu karena iman, amal sholeh serta akhlaqnya, agar cintamu abadi. Tidakkah anda mendambakan cinta yang senantiasa menghiasi dirimu walaupun anda telah masuk ke dalam alam kubur dan kelak dibangkitkan di hari kiamat? Tidakkah anda mengharapkan agar kekasihmu senantiasa setia dan mencintaimu walaupun engkau telah tua renta dan bahkan telah menghuni liang lahat?



Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:



ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ. متفق عليه



“Tiga hal, bila ketiganya ada pada diri seseorang, niscaya ia merasakan betapa manisnya iman: Bila Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dibanding selain dari keduanya, ia mencintai seseorang, tidaklah ia mencintainya kecuali karena Allah, dan ia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkan dirinya, bagaikan kebenciannya bila hendak diceburkan ke dalam kobaran api.” (Muttafaqun ‘alaih)



Saudaraku! hanya cinta yang bersemi karena iman dan akhlaq yang mulialah yang suci dan sejati. Cinta ini akan abadi, tak lekang diterpa angin atau sinar matahari, dan tidak pula luntur karena guyuran air hujan.



Yahya bin Mu’az berkata: “Cinta karena Allah tidak akan bertambah hanya karena orang yang engkau cintai berbuat baik kepadamu, dan tidak akan berkurang karena ia berlaku kasar kepadamu.” Yang demikian itu karena cinta anda tumbuh bersemi karena adanya iman, amal sholeh dan akhlaq mulia, sehingga bila iman orang yang anda cintai tidak bertambah, maka cinta andapun tidak akan bertambah. Dan sebaliknya, bila iman orang yang anda cintai berkurang, maka cinta andapun turut berkurang. Anda cinta kepadanya bukan karena materi, pangkat kedudukan atau wajah yang rupawan, akan tetapi karena ia beriman dan berakhlaq mulia. Inilah cinta suci yang abadi saudaraku.



Saudaraku! setelah anda membaca tulisan sederhana ini, perkenankan saya bertanya: Benarkah cinta anda suci? Benarkah cinta anda adalah cinta sejati? Buktikan saudaraku…



Wallahu a’alam bisshowab, mohon maaf bila ada kata-kata yang kurang berkenan atau menyinggung perasaan.



***



Ustadz Muhammad Arifin Badri, M.A.

Dipublikasi ulang dari www.pengusahamuslim.com



Footnote:



1) Saudaraku, setelah membaca kisah cinta sahabat Abdurrahman bin Abi Bakar ini, saya harap anda tidak berkomentar atau berkata-kata buruk tentang sahabat Abdurrahman bin Abi Bakar. Karena dia adalah salah seorang sahabat nabi, sehingga memiliki kehormatan yang harus anda jaga. Adapun kesalahan dan kekhilafan yang terjadi, maka itu adalah hal yang biasa, karena dia juga manusia biasa, bisa salah dan bisa khilaf. Amal kebajikan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu banyak sehingga akan menutupi kekhilafannya. Jangan sampai anda merasa bahwa diri anda lebih baik dari seseorang apalagi sampai menyebabkan anda mencemoohnya karena kekhilafan yang ia lakukan. Disebutkan pada salah satu atsar (ucapan seorang ulama’ terdahulu):



مَنْ عَيَّرَ أَخَاهُ بِذَنْبٍ مَنْ عَابَهُ بِهِ لَمْ يَمُتْ حَتَّى يَعْمَلَهُ



“Barang siapa mencela saudaranya karena suatu dosa yang ia lakukan, tidaklah ia mati hingga terjerumus ke dalam dosa yang sama.”

By Artikel, renungan dan kisah motivasi...

Sebuah perkataan seorang suami yang istrinya mengalami kelumpuhan selama 25 th setelah melahirkan anak mereka



***Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam

perkawinannya, tetapi tidak mau memberi ( memberi waktu,

tenaga, pikiran, perhatian ) adalah kesia-siaan.

Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan

sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai

saya dengan hati dan batinnya bukan dengan mata, dan dia

memberi saya 4 orang anak yg lucu-lucu. Sekarang dia sakit

karena berkorban untuk cinta kita bersama…dan itu merupakan

ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk

mencintainya apa adanya, sehatpun belum tentu saya mencari

penggantinya apalagi dia sakit ***

Andai semua orang mempunyai pikiran yang sama dengan suami diatas alangkah indahnya dunia ini...alangkah indahnya cinta sejati...terkadanga aku tak mengerti dengan pikiran laki-laki...padahal sudah mendapatkan istri cantik, solihah, selalu setiap mendampingi dalam suka maupun duka, sehat tapi masih saja mencari penggantina, sebenarnya apa yang di cari??? masih saja kisah perselingkuhan itu da??? jika cinta mampu membuat seorang perempuan setia kepada satu laki-laki, tapi kenapa cinta tak mampu membuat seorang laki-laki setia kepada satu perempuan?

Rabu, 09 Februari 2011

Antara Harapan dan Kenyataan.....

Antara Harapan dan Kenyataan

EPISODE 1 :

♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

Saat Fulanah masih seorang gadis, yang ada di benaknya dan yang kemudian menjadi tekadnya adalah keinginan menjadi isteri shalihat yang taat dan selalu tersenyum manis. Pendeknya, ingin emberikan yang terbaik bagi suaminya kelak sebagai jalan pintas menuju surga.



Tekad itu diperolehnya setelah mengikuti berbagai 'tabligh', ceramah, dan seminar keputerian serta membaca sendiri berbagai risalah. Bahkan banyak pula ayat Al-Qur'an dan Hadits yang berkaitan dengan hal itu telah dihafalnya, seperti "Ar Rijalu qowwamuna alan nisaa'...","Faso- lihatu qonitatu hafizhotu lilghoibi bima afizhallah..." (QS. An-Nisa ayat 34). Juga Hadits :"Ad dunya ata', wa khoiru mata'iha al mar'atus sholihat." (dunia adalah perhiasan dan

sebaik-baik perhiasan adalah isteri sholihat). Atau, hadits "Wanita sholihat adalah yang menyenangkan bila dipandang, taat bila disuruh dan menjaga apa-apa yang diamanahkan padanya. Begitu pula hadits "Jika seorang isteri sholat lima

waktu, shaum di bulan Ramadhan dan menjaga kehormatan dirinya serta suaminya dalam keadaan ridha padanya saat ia mati, maka ia boleh masuk surga lewat pintu yang mana saja. (HR Ahmad dan Thabrani). Hadits yang berat dan seram pun

dihafalnya, "Jika manusia boleh menyembah manusia lainnya, maka aku perintahkan isteri menyembah suaminya." (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban)



Figur isteri yang sholihat, taat, dan setia serta qona'ah seperti Kha- dijah r.a. benar-benar terpatri kuat di benak Fulanah dan jelas ingin ditirunya. Maka, tatkala Allah SWT telah menakdirkan ia mendapat jodoh seorang Muslim yang

sholih, 'alim dan berkomitmen penuh pada Islam, Fulanah pun melangkah ke gerbang pernikahan dengan mantap. Begitu khidmat dan khusyu karena kesadaran penuh untuk beribadah dan menjadikan jihad dan syahid sebagai tujuan hidup berumah tangga.



EPISODE 2



Tatkala Fulan masih menjadi seorang jejaka, ia sering membatin, ber-angan-angan, dan bercita-cita membentuk rumah tangga Islami dengan seorang

Muslimah sholihat yang menyejukkan hati dan mata. Alangkah bahagianya menjadi seorang suami dan seorang "qowwam" yang "qooimin bi nafsihi wa muuqimun lil ghoirihi" (tegak atas dirinya dan mampu menegakkan orang lain, terutama isteri

dan anak-anaknya). Juga menjadi 'imam yang adil' yang akan memimpin dan mengarahkan isteri dan anak- anaknya.



Alangkah menenangkannya mempunyai seorang isteri yang akan dijaganya lahir dan batin, dilindungi dan disayanginya karena ia adalah amanah Allah SWT yang telah dihalalkan baginya dengan dua kalimat Allah SWT. Ia bertekad untuk mempergauli isterinya dengan ma'ruf (QS An-Nisa:19) dan memperhatikan hadits Rasulullah SAW tentang kewajiban-kewajiban seorang suami. "Hanya laki-laki mulialah yang

memuliakan wanita." "Yang paling baik di antara kamu, wahai mu'min, adalah yang paling baik perlakuannya terhadap isterinya. Dan akulah (Muhammad SAW) yang paling baik perlakuannya terhadap isteri-isteriku." "Wanita seperti tulang rusuk manakala dibiarkan ia akan tetap bengkok, dan manakala diluruskan secara paksa

ia akan patah." (HR. Bukhari dan Muslim)



Fulan pun bertekad meneladani Rasulullah SAW yang begitu sayang dan lembut pada isterinya. Tidak merasa rendah dengan ikut meringankan beban pekerjaan isteri seperti membantu menyapu, menisik baju dan sekali-sekali turun ke dapur seperti

ucapan Rasulullah kepada Bilal : "Hai Bilal, mari bersenang-senang dengan menolong wanita di dapur." Karena Rasulullah suka bergurau dan bermain-main

dengan isteri seperti berlomba lari dengan Aisyah r.a. (HR Ahmad), maka ia pun berkeinginan meniru hal itu serta menyapa isteri dengan panggilan lembut 'Dik' atau 'Yang'.



EPISODE-EPISODE SELANJUTNYA



Fulan dan Fulanah pun ditakdirkan Allah SWT untuk menikah. Pasangan yang serasi karena sekufu dalam dien, akhlaq, dan komitmen dengan Islam.



Waktu pun terus berjalan. Dan walaupun tekad dan cita-cita terus membara, kini banyak hal-hal realistis yang harus dihadapi. Sifat, karakter, pembawaan, selera, dan kegemaran serta perbedaan latar belakang keluarga yang semula mudah terjembatani oleh kesatuan iman, cita-cita, dan komitmen ternyata lambat laun menjadi bahan-bahan perselisihan. Pertengkaran memang bumbunya perkawinan, tetapi manakala bumbu yang dibubuhkan terlalu banyak, tentu rasanya menjadi tajam dan tak enak lagi.



Ternyata, segala sesuatunya tak seindah bayangan semula. Antara harapan dan kenyataan ada terbentang satu jarak. Taman bunga yang dilalui ternyata pendek dan singkat saja. Cukup banyak onak dan duri siap menghadang. Sehabis meneguk

madu, ternyata 'brotowali' yang pahitpun harus diteguk. Berbagai masalah kehidupan dalam perkawinan harus dihadapi secara realistis oleh pasangan mujahid dan mujahidah sekalipun. Allah tak akan begitu saja menurunkan malaikat-malaikat

untuk menyelesai- kan setiap konflik yang dihadapi. "InnAllaha laa yughoyyiru maa bi Qoumin hattaa yughoyyiru maa bi anfusihim"



Ada seorang isteri yang mengeluhkan cara bicara suaminya terutama jika marah atau menegur, terdengar begitu 'nyelekit'. Ada pula suami yang mengeluh karena dominasi ibu mertua terlalu besar. Perselisihan dapat timbul karena perbedaan gaya bicara, pola asuh, dan latar belakang keluarganya. Kejengkelan juga mulai timbul karena ternyata suami bersikap 'cuek', tidak mau tahu kerepotan rumah tangga, karena berang- gapan "itu khan memang tugas isteri." Sebaliknya, ada suami yang kesal karena isterinya tidak gesit dan terampil dalam urusan rumah tangga, maklum sebelumnya sibuk kuliah dan jadi 'kutu buku' saja.



Fulan pun mulai mengeluh. Ternyata isterinya tidak se-"qonaah" yang diduganya, bahkan cenderung menuntut, kurang bersahaja dan kurang bersyukur. Fulanah sebaliknya. Ia mengeluh, sang suami begitu irit bahkan cenderung kikir, padahal kebutuhan rumah tangga dan anak-anak terus meningkat.



Seorang sahabat Fulan juga kesal karena isterinya sulit menerima keadaan keluargan. Sebab musababnya sih karena perbedaan status sosial, ekonomi dan adat istiadat. Kekesalannya bertambah-tambah karena dilihatnya sang isteri malas meningkatkan kemampuan intelek-tual, manajemen rumah tangga, serta kiat-kiat mendidik anak. Sebaliknya, sang isteri menuduh suaminya sebagai "anak mama" yang

kurang mandiri dan tidak memberi perhatian yang cukup pada isteri dan anak-anaknya. Belum lagi problem yang akan dihadapi pasangan-pasangan muda yang masih tinggal menumpang di rumah orang tua. Atau di dalam rumah mereka ikut tinggal kakak-kakak atau adik-adik ipar. Kesemua keadaan itu potensial mengundang konflik bila tidak bijak-bijak mengaturnya.



Kadang-kadang semangat seorang Muslimah untuk da'wah keluar rumah terlalu berlebihan. Tidak "tawazun". Hal ini dapat menyebabkan seorang suami mengeluh karena terbebani dengan tugas-tugas rumah tangga yang seabreg- abreg dan mengurus anak-anak. Selanjutnya, ada pula Muslimah yang terlalu banyak

menceritakan kekurangan suaminya, kekecewaan-kekecewaannya pada suaminya. Padahal ia sendiri kurang instrospeksi bahwa ia sering lupa melihat kebaikan dan kelebihan suaminya.



Ada suami yang begitu "kikir" dalam memuji, kurang "sense of humor" dan "sedikit" berkata lembut pada isteri. Kalau ada kebaikan isteri yang dilihatnya,

disimpannya dalam hati, tetapi bila ia melihat kekurangan segera diutarakannya. Bahkan ada pula pasangan suami-isteri yang memiliki problem "hubungan intim suami-isteri". Mereka merasa tabu untuk membicarakannya secara terus terang di

antara mereka berdua. Padahal akibatnya menghilangkan kesakinahan rumah tangga.



Kalau mau dideretkan dan diuraikan lagi, pasti daftar konflik yang terjadi di antara pasangan suami-isteri muda Muslim dan Muslimah akan lebih panjang lagi. Memang, persoalan-persoalan tidak begitu saja hilang. Rumah tangga tidak pasti

akan berjalan mulus tanpa konflik hanya dengan kesamaan fikrah dan cita-cita menegakkan Islam. Mereka yakni Fulan dan Fulanah cs tetap manusia-manusia biasa yang bisa membuat kekhilafan dan tidak lepas dari kekurangan-kekurangan. Dan

mereka pun pasti mengalami juga fluktuasi iman.



Pasangan yang bijak dan kuat imannya akan mampu istiqomah dan lebih punya kemampuan menepis badai dengan menurunkan standar harapan. Tidak perlu berharap muluk-muluk seperti ketika masih gadis atau jejaka. Karena, ternyata kita pun belum bisa mewujudkan tekad kita itu. Sebagai Muslim dan Muslimah hendaknya kita sadar, tidak mungkin kita dapat menjadi isteri atau suami yang sempurna seperti bidadari atau malaikat. Maka kita pun tentunya tidak perlu menuntut kesempurnaan

dari suami atau isteri kita.



"Just the way you are" lah. Kita terima pasangan hidup kita seadanya, lengkap dengan segala kekurangan (asal tidak melanggar syar'i) dan kelebihannya. Kita memang berasal dari latar belakang keluarga, kebiasaan, dan karakter yang

berbeda, walau tentunya dien, fikrah, dan cita- cita kita sama. Pada saat ghirah tinggi, iman dalam kondisi puncak, "Prima", semua perbedaan seolah sirna. Namun pada saat "ghirah" turun, iman menurun, semua perbedaan itu menyembul kepermukaan, mengganjal, mengganggu, dan menyebalkan. Akibatnya tidak terwujud sakinah.



Kiat utama mengatasi permasalahan dalam rumah tangga, tentunya setelah berdoa memohon pertolongan Allah SWT dan mau ber"muhasabah" (introspeksi), adalah

mengusahakan adanya komunikasi yang baik dan terbuka antara suami- isteri. Masalah yang timbul sedapat mungkin diselesaikan secara intern dulu di antara suami-isteri dengan pembicaraan dari hati ke hati. "Uneg-uneg" yang ada secara fair dan bijak diungkapkan.



Selanjutnya, yang memang bersalah diharapkan tidak segan-segan mengakui kesalahan dan meminta maaf. Yang dimintai maaf juga segera mau memaafkan dan

tidak mendendam. Masing-masing pihak berusaha keras untuk tidak mengadu ke orang tua, atau orang lain. Jadi tidak membongkar atau membe- berkan aib dan kekurangan suami atau isteri. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah tidak membanding-bandingkan suami atau isteri dengan orang lain, karena itu akan menyakitkan pasangan hidup kita. Setelah itu, masing-masing juga perlu 'waspada'

agar tidak terbiasa kikir pujian dan royal celaan.



Jika terpaksa, kadnag-kadang memang diperlukan bantuan pihak ketiga (tetapi pastikan yang dapat dipercaya keimanan dan akhlaqnya) untuk membantu melihat permasalahan secara lebih jernih. Kadang-kadang "kacamata" yang kita pakai sudah begitu buram sehingga semua kebaikan pasangan hidup kita menjadi tidak terlihat, bahkan yang terlihat keburukannya saja. Orang lain yang terpercaya InsyaAllah akan bisa membantu menggosok 'kacamata' yang buram itu. Alhamdulillah ada yang tertolong dengan cara ini dan mengatakan setelah konflik terselesaikan mereka pun berbaikan lagi seperti baru menikah saja ! Layaknya !



Dengan berikhtiar maksimal, bermujahadah, dan bersandar pada Allah SWT, InsyaAllah kita dapat mengembalikan kesakinahan dan kebahagiaan rumah tangga kita, serta kembali bertekad menjadikan jihad dan syahid sebagai tujuan kita berumah tangga. Amiin yaa Robbal'aalamiin.



Wallahu a'lam bishowab.

♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

by Renungan dan kisah inspiratif...

note ini hampir sama dengan novel catatan hari seorang istri by asma nadia...

tapi kenyataanna memang seperti ini, di pasar seringkali aku menjumpai seorang istri

sering curhat kepada lelaki lain, bukankah dia sudah bersuami kenapa tak curhat ke

suaminya saja?? da juga seorang istri yang menerima telepon dari lelaki yang bukan

suaminya dan ngobrol hal2 yang tak penting sedangkan suaminya sedang sakit, ibuku

hanya bilang kenapa kog harus di layani ya?? bukankah ini akan membuat rumah tangga

jadi ga tentram, padahal umurnya juga ga muda lagi lho ngonoku ngo po? urip mung

sepisan kenapa harus di buat macam2? gitu kata ibu...sering ku lihat banyak

orang-orang gila di pasar dan hampir kebanyakan usia relatif masih muda...kemaren

aku juga dengar dari adeku yang abis observasi di rumah sakit jiwa solo, kebanyakan

pasiennya adalah perempuan muda yang kebanyakan karena masalah rumah tangga...

sedangkan di sekolah aku lihat ada wali murid yang begitu bangga menceritakan bahwa

ia sudah mengurung anaknya di kamar mandi dan setiap hari loyal sekali membicarakan

keburukan istrinya...astagfirullah...

aku harap aku tak mendengar kisah-kisah tak menyenangkan ini dari mbkyu2ku, dari

diriku atau dari sahabat-sahabatku...aku ingin dengar kisah bahagia kalian...harapku

semoga hati kalian selalu terjadi untuk pasangan kalian, semoga cinta selalu di

limpahkan dalam hati masing-masing sehingga tetap setia sampai dunia akhirat...

happy wedding untuk semua sahabatku yang telah menemukan cinta sejatina, telah

melakukan ikrar suci dengan Sang Pemilik Cinta...semoga cinta kalian senantiasa di

lindungi satu dengan yang lainnya...

bahagiamu...bahagiaku...sobat...

Ya ALLAH isilah Hatiku dengan CintaMu...
Baikan Rejekiku...
Elokkan Pekertiku...
Agar Aku Bisa membahagiakan orang yang kelak KAU jodohkan denganku...
Siapa Dia? Bolehkah Aku Berharap Dia Adalah Orang bertahta di hatiku saat ini...
Bolehkah Aku meminta???
Tapi Andai ENGKAU berkehendak Lain...Aku Mohon Kuatkan Hatiku...