Jumat, 23 Desember 2011

Scandal Sunkyunkwan...


Scandal Sunkyunkwan
Dari kemaren kog updatenya serius mulu ya, reflesing bentar yuks….
Rekomendasi film korea yang sangat ku suka…

Scandal Sunkyunkwan film korea yang bergendre kerajaan, tak seperti kebanyakan film korea yang bergendre kerajaan lain film ini unik menurutku…

Scandal Sunkyunkwan bercerita tentang sebuah sekolah tempat menimba ilmu untuk calon pejabat kerajaan. Dan yang berhak sekolah di situ hanya orang laki-laki saja.
Tetapi ada salah seorang mahasiswa perempuan yang sedang menyamar menjadi laki-laki dan bersekolah disitu kim yun sik namanya. Ada beberapa mahasiswa yang cerdas di sana.

Tapi sang raja tertarik dengan 4 mahasiswa yang mempunyai pemikiran yang berbeda dengan yang lainnya mereka di kenal dengan sebutan Quarted junglem.
Kim yun sik mahasiswa perempuan yang sedang menyamar anak dari salah satu professor atau guru di Sunkyunkwan yang sekaligus sabahat dari sang raja jadi inget raden ajeng kartini ya. Lie sun jung anak salah perdana menteri, seorang kutu buku, cerdas, tenang, pikirannya bekerja lebih cepat dari gerakan tubuhnya. Ada kisah unik antara kim yun sik dan lie sun jung, lie sun jung merasa dirinya homo karena menyukai teman sekamarnya sendiri he…jadi inget coffe prince. Mahasiswa selanjutnya mun jae sik seorang yang cool he…tak banyak cakap mahasiswa senior yang sudah 10 tahun belajar di Sunkyunkwan, punya keunikan dia akan cegukan tiap deket dengan wanita. Bagaimana jika lie sun jung, kim yun sik dan mun jae sik jadi teman sekamar? Sudah pasti seru banget he…nah yang terakhir mahasiswa Gu Yung Ha mahasiswa senior sahabat dekat dari mun jae sik, karakternya santai, riang, tapi setia kawan, melindungi temannya dengan sendiri.

Banyak pesan yang saya dapat saat nonton film ini…
Jadi ingat R. Kartini dimana setiap orang bebas untuk mendapatkan pendidikan.
Belajar tentang kebijaksanaan, keadilan, kepemimpinan dari sang raja dan para mahasiswa Sunkyunkwan.

Film ini cukup kompleks, lucu, unik, mengharukan, pokoknya seru banget ini menurutku.
Silakan tonton sendiri filmnya…dan dapatkan sensasinya he…

Setting filmnya oke pake banget…
Actor dan aktrisnya cakep semua he…tahu kenapa kim yun sik ga ketahuan kalo dia cewek??? Itu karena teman-temannya mempunyai face yang hampir mirip dengan dia. Sama cantiknya he…

Kamis, 22 Desember 2011

Diary Seorang Anak Part II...

Wahai ibuku yang terkasih…
Anakmu ini sangat merindukan tutu katamu yang lembut, senyum yang menenteramkan, belaian yang menyejukkan hati, dan kasih sayangmu yang tulus. Bukan cacian dan makian yang selama ini aku terima. Karena aku salah sedikit saja ibu pasti langsung memarahiku, tanpa bertanya dulu. Tanpa memberiku kesempatan untuk menjelaskan. Padahal ibuku, kelembutan itu apabila ia berada pada sesuatu, maka akan menjadikannya mulia, dan jika kelembutan itu hilang daripadanya, niscaya akan menjadikannya hina. Ibu…kalau saja kelembutan itu berada pada keluarga kita, niscaya akan menjadiakn keluarga kita keluarga yang mulia. Kenapa engkau tidak bisa menahan amarah?

Ibuku yang cantik…
Terima kasih atas semua perhatian yang engkau berikan selama ini, aku merasakan itu sebagai bentuk tanggung jawabmu terhadap anak-anakmu. Tetapi tahukah ibu hawa aku ini manusia biasa, sama seperti anak-anak lainnya yang ingin merasakan kebebasan berekspresi, ingin bermain dan bersosialisasi dengan anak-anak lainnya dengan lingkungan sekitarku, ibu. Tetapi engkau selalu melarangku untuk bergaul dengan teman-teman, dengan alasan bahwa ibu takut jadi apa-apa padaku. Ibu, engkau begitu sangat mengkhawatirkanku. Terima kasih bu, tetapi aku tidak menginginkan itu semua. Aku ingin mendapatkan kesempatan untuk beraktualisasi diri, merasakan indahnya masa bermainku. Masih ingat apa yang ibu katakana kepadaku ketika aku ingin bermain dengan teman-teman, waktu itu ibu mengatakan jangan nanti kulitmu jadi hitam, rambutmu nanti bau matahari, kamu akan terbawa pergaulan yang tidak baik! Apakah ibu mengetahui denga benar perilaku teman-temanku itu sehingga ibu mencapnya tidak baik?

Ibuku yang baik….engkau begitu ingin sekali aku menjadi apa yang seperti ibu cita-citakan sehingga ibu begitu menggebu-gebu memasukkanku ke lembaga pendidikan dan beberapa bimbingan belajar sehingga nyaris setiap hari aku habiskan waktu untuk mengikuti pelajaran. Padahal ibu, jauh di lubuk hatiku, aku ingin merasakan kegembiraan sebagaimana kegembiraan anak-anak lainnya. Aku ingin tertawa bersama mereka, aku ingin mencoba permainan yang biasa mereka mainkan. Sesungguhnya ibuku yang baik, engkau telah menjauhkan duniaku dengan mereka semua. Tetapi baiklah ibu, aku akan menuruti apa yang engkau inginkan karena tidak mau menjadi anak durhaka sebagaimana yang sering ibu katakan kepadaku ketika aku mencoba menolak keinginanmu….
Ibu…semua yang ibu lakukan kepadaku karena ibu sangat mencintaiku, sangat menyayangiku, itu aku tahu ibu. Dan untuk itu tak henti-hentinya aku mengucapkan terima kasih. Bu, aku pernah dengar dari pak guru di sekolah, bahwa cinta itu sejatinya adalah saling memahami, saling menghormati, dan saling memberi. Ibu, jika anakmu ini boleh bertanya, pernahkah ibu memahamiku sebagai pribadi? Pernahkah ibu menghormati eksistensiku sebagai anak? Pernahkah ibu memberiku kesempatan berbuat sesuatu layaknya anak-anak? Tetapi ibu, aku tidak akan menuntut itu semua karena aku pernah mendengar dari pak guru bahwa cinta sejati itu tidak menukar kebaikan yang kita berikan dengan apa yang kita inginkan, cinta sejati itu memberi bukan menuntut.

Ibuku yang pintar…seolah tidak ada habisnya kata-kata yang keluar dari mulutmu. Karena itu, aku bingung sendiri apa yang ibu katakan, ibu banyak mengomel tanpa alasan, walau hanya kesalahan kecil, tetapi ibu begitu sering menghardik dan mengomeliku. Aku hanya boleh menjadi pendengar yang baik . apakah anak-anak hanya boleh mendengar saja tanpa diberikan kesempatan untuk bicara, ibu? Tetapi jangan khawatir ibu, bahwa anakmu ini akan selalu mendengarkan nasihat-nasihat ibu, akan selalu menyayangi dan mencintai ibu. Karena engkaulah ya telah melahirkanku ke dunia ini. Terima kasih ibu.

Ayah dan ibu yang baik…lewat tulisan ini, aku tidak bermaksud menyalahkan dan menghakimi kalian sebagaimana yang sering kalian lakukan kepadaku. Ayah dan ibu yang lemah lembut, kekerasan yang selama ini sering terjadi baik terhadapku, terhadap ibu, terhadap ayah akan menjadi batas yang akan memisahkan kita. Tamparan tanganmu hanya akan menjadi jurang pemisah antara kita. Sikap dinginmu akan selalu memperkeruh suasanan pergaulan kita. Dan setiap omelanmu ibu, akan selalu mengerdikanku di mata teman-temanku.

Ayah dan ibu yang super sibuk….bolehkah anakmu ini tetap berharap suatu hari kelak kebersamaan dan keindahan sebagaimana layaknya sebuah keluarga, aku rasakan? Bolehkan aku berharap jika aku berbuat nakal, tidak menurut, berbuat kesalahan, dan keas kepala, kalaian mendoakan aku supaya manjadi anak yang baik, anak yang shalih, dan berbakti kepada orang tuanya? Bolehkah aku mendengar lantunan doa kalian ang memohon petunjuk dan hidayanhNYA agar aku menjadn yang kamili insane yang kamil? Tetapi ayah dan ibu aku berjanji akan senantiasa menjadi anak yang sholeh dan berbakti keapa orang tua. Dan aku akan bersaksi dihadapan Allah SWT dan mendoakan kalian berdua. Aku akan memohon pertolongan Allah untuk menyelamatkan dan memberi ampunan untuk ayah dan ibu. Bukankah doa yang didengar dan dikabul oleh Allah salah satuya adalah doanya anak yang sholeh?

Anakmu yang selalu mendoakan kalian…


****
Sumber: "Hentikan Kebiasaan Berbahaya bagi Anak"...

Diary Seorang Anak...

Diary Seorang Anak

Ayah dan ibuku tercinta….
Sebelumnya mohon maaf karena anakmu ini mengungkapkan perasaan ini lewat tulisan karena mulut ini tak kuasa dan tak berani berkata-kata di depan ayah dan ibu. Izinkan aku mengucap rasa syukur dan kebahagiaan yang tak terhingga karena telah diberikan oleh Allah orang tua yang sangat mencintai dan menyayangiku. Izinkan pula aku menghaturkan terima kasih yang dalam atas segala upaya dan kasih sayang yang telah ayah dan ibu berikan, yang telah mendidik dan menjagaku. Ayah dan ibu telah berbuat yang terbaik untukku menjalani hidup ini, menjagaku siang dan malam agar aku tidak tergelincir ke jalan yang sesat, membimbingku agar tetap tegak berdiri berpegang teguh pada kebenaran dan nilai-nilai luhur, meluruskan akhlak dan budi pekertiku. Kalian telah memberikan apa yang seharusnya diberikan oleh orang tua kepada anak-anaknya, dan itu semua aku terima dengan baik dan bahkan lebih dari cukup, terima kasih untuk itu semua.

Ayah dan ibuku tersayang, tidakkah kalian sadari bahwa aku adalah manusia biasa, manusia yang sepanjang hayatnya belajar dan belajar untuk menjadi insan yang kamil, insane yang diridhoi Allah SWT. Karena aku manusia biasa, maka tentu aku sering berbuat kesalahan, apakah itu salah wahai ayah dan ibuku? Bukankah kita tahu bahwa kesalahan adalah bagian dari proses belajar? Tapi kenapa setiap aku berbuat salah, ayah langsung memarahiku tanpa bertanya kenapa aku berbuat demikian, padahal aku berbuat salah karena semata aku ini anakmu yang membutuhkan bimbingan dan arahanmu. Kenapa ibu begitu menggebu-gebu menghakimiku, padalah aku melihat ibu-ibu yang lain begitu lembut dan dari mulutnya meluncur kata-kata yang menyejukkan, bukan memojokkan.

Wahai ayahku yang budiman…
Masih segar dalam ingatanku dan sampai kini terpaan tanganmu di pipiku masih terasa. Mengapa engkau menggunakan tanganmu untuk member pengertian kepadaku. Mengapa hanya untuk menasihatiku harus terlebih dahulu menggunakan tanganmu. Mengapa engakau tidak bertanya lebih dulu, dan memberikan kesempatan untukku menjelaskan dan berbicara.

Ayahku yang baik…
Mengapa seolah untuk mendapat maaf darimu aku harus menerima tamparan di pipi, atau cacian yang pedas di telingaku. Terkadang engkau memberi nasihat kepadaku dilakukan di depan orang lain. Padahal tahukah ayahku yang baik, bahwa tatapanmu saja sudah begitu terasa menusuk dadaku, apalagi kau membicarakan kesalahan dan kejelekanku di depan orang lain, sangat menyakitkan.

Ayah…bukankah seorang ayah adalah pemimpin? Bukankah seorang ayah adalah imam? Tetapi ayah, aku jarang sekali mendapatkan ayah berlaku sebagai imam yang berdiri di shaf paling depan memimpin kami-kami bersujud kepada-NYA karena engkau selalu pulang malam. Engkau pernah mengatakan bahwa yang ayah lakukan adalah untuk membekali aku menuju masa depan, membiayaiku sekolah dan memberiku makan. Untuk itu aku mengucapkan terima kasih yang tak terhingga ayah. Tetapi ayah, aku merindukan di mana ayah berdiri sebagai imam dan membimbing akami menuju ridho-NYA. Ayah…aku pernah berkunjung ke rumah teman, dan ketika waktu shalat tiba, ayah temanku itu yang menjadi imamnya, temanku membaca iqamah, sedangkan ibunya berada di shaf belakang. Aku merasakan kedamaian ketika mereka semua berdoa bersama. Setelah shalat selesai, sang ayah menciumi kening anak-anaknya satu persatu begitu juga ibunya mencium rambut anaknya dengan diiringi doa yang meluncur indah sekali. Maaf ayah, bukan aku mau membandingkan ayah dengan orang tua yang lain sebagaimana yang sering ayah lakukan terhadap aku selama ini. Hanya saja aku ingin sekali merasakan apa yang dirasakan oleh temanku itu.

Ayahku yang bertanggung jawab…waktu itu anakmu ini tidak bermaksud lancang menanyakan asal-usul makanan, minuman, pakaian dan mainan yang engkau belikan buat aku, aku hanya ingin memastikan bahwa makanan yang aku makan adalah makanan yang halal. Minuman yang kau teguk benar-benar minuman yang menghilangkan dahaga keimananku, bukan minuman yang justru membuatku haus. Aku hanya ingin memastikan bahwa pakaian yang aku pakai adalah pakaian yang dapat dibanggakan dan melekat pada tubuhku dengan keyakinan bahwa itu semua memberiku kebaikan dan kesehatan, tidak hanya sehat fisik karena terlindung oleh pakaianku, tetapi juga sehat akal dan mentalku. Dan ayah, aku hanya ingin memastikan bahwa mainan yang aku mainkan adalah mainan yang benar-benar membahagiakanku bukan mainan yang membuatku dipenuhi tanda Tanya dan keraguan. Salahkah aku bertanya seperti itu padamu ayah? Waktu itu bukan jawaban yang aku terima, tetapi cacian, makian dan terpaan tanganmu yang sampai kini masih terasa dipipiku. Mungkin kalau yang di pipi sudah tidak terasa, tetapi di hati ini akan sangat sulit untuk melupakannya ayahku.
Waktu itu ayah mengatakan dengan sangat marah, “Anak kecil apa hah pake nanya halal apa haram? Yang penting makan, minum, dan pake saja! Ga usah macam-macam. Ingat aku ini ayahmu jadi jangan lancang seperti itu. Kalau kamu ga mau sudah buang saja sana!” Ayah, maaf jika aku memang lancang waktu itu. Sebenarnya yang aku harapkan waktu itu adalah ayah memberikan penjelasan, merangkulku dan meyakinkanku bahwa semua yang ayah dapatkan untuk menghidupi keluarga dan anak-anak diperoleh dengan jalan yang diridhoi Allah SWT. Sekali lagi mohon maaf jika anakmu berbuat lancang.

Ayahku yang cerdas, sungguh aku berharap besar darimu bahwa suatu hari nanti, ayah meluangkan waktu untuk sekedar bercengkerama denganku, atau sekadar menanyakan pelajaran apa yang dipelajari tadi siang di sekolah. Kemudian ayah membingku dan mendampingiku mengerjakan tugas-tugas sekolah. Tetapi ayah, harapan itu mungkin akan hanya tinggal harapan saja karena itu semua telah ayah limpahkan kepada guru les yang setiap hari datang ke rumah kita. Tetapi ketahuilah ayahku yang baik bahwa aku akan tetap mencintai dan menyayangi ayah dan masih berharap dapat merasakan cinta kasihmu padaku.


****
Sumber: "Hentikan Kebiasaan Berbahaya bagi Anak"...