Minggu, 31 Juli 2011

Marhaban Ya Ramadhan...


Kubaca Ta’awudz dan
Basmalah lalu ku ucapkan
Kubasuh tanganku,
Kusucikan kedua tanganku

Kubasuh mulutku,
kusucikan lidah dan ucapanku
Kubasuh hidungku,
kusucikan penciumanku

Kubasuh mukaku,
kusucikan wajah dan penglihatanku
Kubasuh lenganku,
kesucikan perbuatanku

Kubasuh rambutku,
kusucikan pikiranku
Kubasuh telingaku,
kusucikan pendengaranku

Kubasuh kakiku,
kusucikan langkahku
Allahu ya Rabbi
ijinkan aku menghadapMu
Allahu ya Rabb
ijinkan aku menghadapMu

~{}~

Kubaca Ta’awudz dan
Basmalah lalu ku ucapkan
Kubasuh tanganku,
kusucikan kedua tanganku

Kubasuh mulutku,
kusucikan lidah dan ucapanku
Kubasuh hidungku,
kusucikan penciumanku

Kubasuh mukaku,
kusucikan wajah dan penglihatanku
Kubasuh lenganku,
kesucikan perbuatanku

Kubasuh rambutku,
kusucikan pikiranku
Kubasuh telingaku,
kusucikan pendengaranku

Kubasuh kakiku,
kusucikan langkahku
Allahu ya Rabbi
ijinkan aku menghadapMu
Allahu ya Rabbi
ijinkan aku menghadapMu

Wudhu by Bimbo...

Happy Fasting...MARHABAN YA RAMADHAN...
MARI BERSIHKAN HATI DAN JIWA...
SEMOGA KITA MENDAPAT BERKAH RAMADHAN...
AMIN...

Saat Si Malu Mulai Menipis...




Ya Rabb...
Ampuni Hambamu ini...
Seiring berjalannya waktu aku merasa
Malu yang ku punya mulai terkikis...

Ya Rabb...
Ampuni Hambamu ini...
Sering ku dapati diri ini lepas kendali...
Lepas kontrol, tak seperti biasa...
Malu yang ku jadikan perisai...
Mulai Keropos...

Ya Rabb...
Ampuni Hambamu ini...
Yang tak mampu menjaga rasa malu yang ku punya...
Rabb bagaimana ini...
Aku merasa sangat sedih...
Aku merasa kehilangan sesuatu yang berharga
dalam diri...
MALU...
Aku takut jika rasa malu benar-benar hilang dari diriku...

Ya Rabb...
Ampuni Aku...
Lindungilah aku dan biarkan rasa malu ini tetap berada dalam diri...
Bantulah aku menjaganya...

Kamis, 23 Juni 2011

MAMPUKAH KITA MENCINTAI TANPA SYARAT...


MAMPUKAH KITA MENCINTAI TANPA SYARAT


> Based on True Story..

> Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yg sudah senja
> bahkan sudah mendekati malam,pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi
> dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua. mereka
> menikah sudah lebih 32 tahun

> Mereka dikarunia 4 orang anak disinilah awal cobaan menerpa,setelah
> istrinya melahirkan anak ke empat tiba2 kakinya lumpuh dan tidak bisa
> digerakkan itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh
> tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang lidahnyapun sudah
> tidak bisa digerakkan lagi.

> Setiap hari pak suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan
> mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia
> letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian.

> Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya
> tersenyum, untunglah tempat usaha pak suyatno tidak begitu jauh dari
> rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan
> siang. sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan
> selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan
> apa2 saja yg dia alami seharian.

> Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, pak
> suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap
> berangkat tidur.

> Rutinitas ini dilakukan pak suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar
> dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mereka,
> sekarang anak2 mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yg masih kuliah.

> Pada suatu hari ke empat anak suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka
> sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah sudah
> tinggal dengan keluarga masing2 dan pak suyatno memutuskan ibu mereka dia yg
> merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil.

> Dengan kalimat yg cukup hati2 anak yg sulung berkata " Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak.........bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu"

> dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata2nya "sudah yg keempat
> kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya,


· kapan bapak menikmati masa tua bapak

· dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji kami akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian".

> Pak suyatno menjawab hal yg sama sekali tidak diduga anak2 mereka."
> Anak2ku ......... Jikalau perkawinan & hidup didunia ini hanya untuk nafsu,
> mungkin bapak akan menikah......tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian
> disampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian..
> sejenak kerongkongannya tersekat,... kalian yg selalu kurindukan hadir
> didunia ini dengan penuh cinta yg tidak satupun dapat menghargai dengan
> apapun. coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti Ini.



Ø kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang, kalian menginginkan bapak yg masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yg masih sakit."

Sejenak meledaklah tangis anak2 pak suyatno

Ø merekapun melihat butiran2 kecil jatuh dipelupuk mata ibu suyatno..

Ø dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu..

Ø Sampailah akhirnya pak suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta
untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada suyatno

"kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yg sudah tidak bisa apa2..."


disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yg hadir di studio kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru disitulah pak Suyatno bercerita.
"Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi ( memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian ) adalah kesia-siaan.

Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 orang anak yg lucu2..

> Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama..dan itu
> merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk
> mencintainya apa adanya. sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya
> apalagi dia sakit,,,"